Sekilas tampak aman, wangi, dan dipakai tiap hari. Tapi siapa sangka, di balik botol obat dan kemasan kosmetik, ada detail kecil yang sering luput dari perhatian. Di sinilah pembahasan tentang titik kritis kehalalan jadi penting. Bukan soal menakut-nakuti, tapi soal sadar. Karena dalam praktiknya, banyak bahan tersembunyi yang statusnya tidak sesederhana “boleh” atau “tidak”. Dari gelatin obat sampai zat pewarna kosmetik, semuanya punya cerita sendiri yang layak dibedah lebih dalam.
Gelatin dalam Obat
Obat bukan sekadar zat aktif. Ada bahan tambahan yang perannya krusial, salah satunya gelatin. Di sinilah titik kritis kehalalan sering muncul tanpa disadari. Gelatin lazim digunakan sebagai bahan pembungkus kapsul karena sifatnya mudah larut dan aman secara farmasi.
Masalahnya, gelatin umumnya berasal dari kolagen hewan. Sumbernya bisa dari sapi, ikan, atau babi. Jika berasal dari babi, jelas haram. Jika dari sapi, masih ada pertanyaan lanjutan: apakah penyembelihannya sesuai syariat Islam? Tanpa informasi yang jelas, status halal jadi abu-abu. Inilah alasan mengapa sertifikasi halal pada obat, khususnya kapsul gelatin, tidak bisa dianggap remeh.
Dalam konteks ilmiah, gelatin memang stabil dan efektif. Namun dari sisi kehalalan, proses produksinya menentukan hukum penggunaannya. Konsumen awam sering fokus pada fungsi obat, padahal bahan pendukung justru menyimpan titik kritis kehalalan yang paling sensitif.

Zat Pewarna Kosmetik
Kosmetik sering dianggap aman karena tidak dikonsumsi. Padahal, dalam fikih Islam, sesuatu yang menempel di tubuh dan digunakan saat ibadah juga harus suci. Pengantar ini penting sebelum membahas zat pewarna, karena di sinilah titik kritis kehalalan kosmetik kerap tersembunyi.
Beberapa zat pewarna berasal dari hewan atau serangga, seperti carmine yang diekstrak dari serangga cochineal. Secara fungsi, pewarna ini memberi warna merah alami yang stabil. Namun dari sisi kehalalan, serangga termasuk kategori yang bermasalah. Jika tidak melalui proses yang dibenarkan, statusnya bisa haram atau najis.
Selain itu, ada pewarna sintetis yang dalam proses pembuatannya menggunakan media berbasis hewan. Meski hasil akhirnya berbentuk kimia murni, proses awal tetap jadi bahan pertimbangan. Inilah kenapa membaca komposisi saja tidak cukup. Pemahaman tentang titik kritis kehalalan menuntut kita melihat asal-usul dan proses, bukan hanya nama bahan di label.
Lemak dan Turunannya
Bagian ini sering bikin lengah. Banyak bahan kosmetik dan produk perawatan diri memakai istilah ilmiah seperti stearic acid, glycerin, atau cetyl alcohol. Pengantar ini perlu ditekankan karena istilah tersebut terdengar “aman” dan netral, padahal sumbernya bisa beragam. Di sinilah titik kritis kehalalan bekerja secara diam-diam.
Lemak dan turunannya bisa berasal dari tumbuhan atau hewan. Jika dari hewan, muncul lagi pertanyaan klasik, hewan apa dan bagaimana prosesnya? Dalam praktik industri, bahan berbasis lemak hewan lebih murah dan stabil, sehingga sering dipilih. Tanpa sertifikasi halal, konsumen tidak punya pegangan yang kuat.
Secara ilmiah, turunan lemak ini berfungsi sebagai emollient, penstabil, atau pelembap. Namun fungsi teknis tidak otomatis menjamin kehalalan. Inilah alasan kenapa lembaga sertifikasi halal menelusuri rantai pasok hingga ke hulu, bukan hanya menguji produk akhir.
Kesimpulan
Membahas titik kritis kehalalan bukan soal mencari-cari kesalahan produk, tapi soal kehati-hatian berbasis ilmu. Gelatin, zat pewarna, dan turunan lemak hanyalah sebagian contoh nyata bagaimana bahan tersembunyi bisa menentukan status halal atau haram. Untuk konsumen umum, langkah paling realistis adalah memilih produk bersertifikat halal dan mulai lebih kritis membaca informasi. Karena sering kali, yang paling menentukan justru bukan yang terlihat, melainkan yang tersembunyi di balik komposisi.