Batam, 2 Oktober 2026 – Ketua LPH Hidayatullah, Muhammad Faisal, S.H., M.H., menjadi narasumber dalam program Ekonomi Digital yang disiarkan langsung oleh RRI Pro 1 Batam. Dialog yang dipandu oleh penyiar Ariel Archaldya (Bang Aril) tersebut mengangkat tema “Digitalisasi untuk Ketahanan Pangan dan Ekonomi Syariah.”
Dalam perbincangan yang berlangsung interaktif, Muhammad Faisal menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak hanya berbicara mengenai ketersediaan bahan pangan, tetapi juga menyangkut aspek kualitas, keamanan, keterlacakan, dan kepercayaan masyarakat terhadap produk yang dikonsumsi. Digitalisasi dinilai menjadi instrumen penting untuk mewujudkan sistem pangan yang lebih efisien dan transparan. Sejalan dengan berbagai pandangan yang berkembang di Indonesia, transformasi digital semakin dipandang sebagai faktor penting dalam memperkuat ketahanan pangan dan efisiensi rantai pasok.

Menurutnya, sistem digital memungkinkan proses produksi, distribusi, hingga pengawasan produk berjalan lebih efektif. Dalam konteks produk halal, digitalisasi juga mendukung proses penelusuran (traceability), pengelolaan data, dan peningkatan kepercayaan konsumen terhadap produk yang beredar di pasar.
Muhammad Faisal menjelaskan bahwa ekonomi syariah memiliki keterkaitan erat dengan sektor pangan. Sebab, kebutuhan pangan merupakan sektor riil yang menjadi fondasi utama kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, penguatan sektor pangan yang didukung oleh prinsip syariah dan teknologi digital akan memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Pada kesempatan tersebut, ia juga menyoroti pentingnya penguatan UMKM sebagai tulang punggung ekonomi nasional. Melalui pemanfaatan platform digital, pelaku usaha dapat memperluas pasar, meningkatkan efisiensi usaha, serta lebih mudah memenuhi berbagai persyaratan pasar, termasuk sertifikasi halal. Berbagai program ekonomi digital di Indonesia juga menempatkan digitalisasi sebagai sarana untuk meningkatkan daya saing UMKM dan memperluas akses pasar.
Diskusi yang dipandu Bang Aril berlangsung hangat dengan pembahasan mengenai peluang Indonesia dalam industri halal global. Muhammad Faisal menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pusat industri halal dunia apabila mampu mengintegrasikan kekuatan ekonomi syariah, digitalisasi, dan ekosistem halal secara berkelanjutan.
Menurutnya, sertifikasi halal tidak lagi sekadar memenuhi kewajiban regulasi, tetapi telah menjadi instrumen strategis untuk meningkatkan daya saing produk dan memperluas akses pasar nasional maupun internasional. Digitalisasi juga berperan penting dalam memperkuat ekosistem halal melalui peningkatan efisiensi layanan, akses informasi, dan transparansi rantai pasok.
Menutup dialog, Muhammad Faisal mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun ketahanan pangan dan ekonomi syariah yang berkelanjutan.
“Jika ketahanan pangan, digitalisasi, dan jaminan halal berjalan beriringan, maka kita tidak hanya membangun ekonomi yang kuat, tetapi juga menghadirkan sistem yang lebih aman, terpercaya, dan memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat,” ujarnya.